Main Menu

Giusto odio dignissimos Omnis dolor repellendus Olimpedit quo minus Itaque earum rerum

Jumat, 11 Juli 2014

Kompas, 22 Juni 2014
Kuda Emas
oleh Tawakal M. Iqbal

Ciasahan, hanya di Ciasahan orang tua dan anak-anak mudah sekali memercayai kisah, baik sejarah ataupun bualan seorang Kakek kepada cucu-cucunya. Kisah bagaikan sesuatu yang turun dari langit, semisal kitab, yang sakral dalam dada setiap masyarakat. Kisah tentang perempuan yang hanyut di kali. Pasukan nasi menyerang kampung. Masih banyak lagi. Kisah-kisah tersebut umumnya hanya membuat anak-anak menjadi takut. Tetapi, kisah yang akan disampaikan, bagi anak kecil, adalah kisah paling fenomenal di antara yang lainnya. Ini menyangkut banyak hal, terutama misteri dan materi. Bagaimanapun kampungannya kampungku tetap saja materi selalu dijadikan prioritas, mengapa anak-anak mau menurut pada orang tuanya untuk bersekolah. Padahal jika dipikirkan, terlalu banyak waktu kami yang terbuang hanya untuk diam di kelas, mendengarkan guru berceramah misalnya. Ada banyak hal di kampungku yang sebetulnya sayang sekali dilewatkan, daripada belajar di sekolah, tentunya. Sayang, anak-anak di kampungku tidak ada yang berani menolak apalagi melanggar perintah orang tua.
Di belakang rumahku menjulang gunung Tanjoleat. Cukup tinggi. Teman-teman seusiaku, dahulu selalu berangan-angan agar dapat pergi ke puncak untuk dapat menyentuh langit. Yang lainnya berharap bisa bertemu bintang film Bollywood, Amir Kahn atau Amitha Bachan, di balik gunung itu. Mereka kira ada sebuah daratan bernama India di sana. Penuh wanita cantik dengan sindur di antara kedua alis matanya. Aku baru tahu setelah dewasa, kalau India itu tidak pernah ada di balik gunung Tanjoleat. India berada di Asia bagian Barat dekat dengan Pakistan dan Bangladesh.
Tanjoleat, adalah gunung yang dipenuhi bebatuan. Sumber sejarah yang tak pernah terungkap, tentang banyak hal. Persembunyian tentara lokal ketika melawan penjajah, kuburan putri, batu yang mirip perahunya Nuh, sepasang telapak kaki, batu pistol, dan batu ular. Sudah banyak peneliti yang mencoba peruntungannya untuk mengungkap sejarah apa saja yang terpendam di sana. Tapi seringkali tak berhasil. Kecurigaanku selalu timbul ketika para peneliti datang ke kampungku dengan alasan hendak melakukan riset. Aku selalu tidak percaya. Pasti ada sesuatu yang berharga sedang mereka incar, entah apa.
Beribu monyet hidup di sana. Babi hutan, kelalawar, dan harimau kumbang yang mendiami goa-goa di sela-sela tumpukan batu. Konon, kuda emas juga hidup di gunung itu dan setiap Kamis malam, tepat pukul 12.00, kuda itu selalu terbang menuju Tenggara, membentangkan sayap, mengibas-ibaskan ekornya. Kilau keemasan memancar ke mana-mana. Kalau kau seorang penyuka bintang dan seringkali takjub ketika melihat bintang jatuh atau himpunan kunang-kunang terbang ke arahmu, kata kekek, kuda emas lebih indah dari itu. Terdengar seperti dongeng memang. Tetapi, ini terjadi di kampung kami, Ciasahan. Kakek sendiri yang menceritakannya padaku. Suatu sore, ketika hujan deras dan angin pegunungan terasa menusuk.  
Jarang sekali ada orang yang melihat langsung kejadian itu. Aku tahu itu lewat cerita-cerita dari teman dan dari Kakekku sendiri. Katanya, hanya orang-orang yang beriman dan memiliki hati cemerlanglah yang dapat melihat kuda itu. Aku pikir hatiku masih cemerlang, sholat, dan hapalan ngajiku tidak ada masalah. Tapi sampai sekarangpun aku belum juga melihat kuda itu terbang di atas rumah. Ini sungguh aneh.
Anak-anak di kampungku, seringkali memimpikan untuk, setidaknya pernah sekali saja melihat kuda itu terbang di atas rumah-rumah dan berharap ia mengeluarkan sesuatu dari pantatnya. Tentu saja orang yang tidak tahu mengenai akan hal ini menganggap harapan itu adalah harapan paling bodoh. Tapi tidak bagi kami. Setiap seusai sholat, kami selalu berdoa meminta hal itu terjadi.
Aku jadi teringat kisah dahulu. Kau mungkin tidak akan percaya, ketika zaman sekolah dasar dulu, kelas mata pelajaran Bahasa Indonesia tepatnya, saat ibu guru bertanya perihal cita-cita dewasa nanti, teman-teman sekelas mengatakan, “menjadi penggembala kuda emas”. Dan kau tahu, semua murid mengatakan kalimat yang sama. Ibu guru geram mendengarnya.
“Kalian tidak mengerti apa artinya cita-cita!”
Kami hanya menunduk takut. Baginya cita-cita kami tak memiliki arti. Cita-cita kami hanyalah khayalan anak-anak yang terbuai oleh dongeng-dongeng murahan. Ibu guru tidak mengerti tentang apa yang menjadi keinginan kami. Bagi anak seusia kami itu adalah hal yang luar biasa. Tapi sayangnya hingga kini tak ada satupun yang berhasil mengejar itu.
Memiliki kuda emas merupakan hal paling menyenangkan. Bayangkan saja, kau tidak perlu bangun pagi untuk bekerja. Lembur sampai pagi untuk menghasilkan uang tambahan. Tidak perlu melakukan hal-hal konyol semacam menunggu uang bulanan atau meminjam uang ke tetangga untuk resiko sehari-hari. Kau hanya tinggal beribadah, berdoa, dan menunggu kotoran yang keluar dari pantat kuda. Kotoran itu dalam sekejap mata akan menjadi emas murni 14 karat, berbentuk oval. Harga emas itu cukup untuk melakukan perjalanan mengelilingi dunia setiap Minggunya. Mentraktir seluruh warga kampung selama sebulan penuh. Coba bayangkan, itu luar biasa bukan?
Cita-cita kami sempat sirna ketika beberapa teman bercerita, “kuda emas itu tidak makan rumput, tapi makan perempuan.” Teman yang satunya bilang, “kuda itu bukan makan perempuan, tapi makan anak kecil yang pipis di luar rumah”.
Yang lainnya bilang “makan batu”.
“Pohon mahoni.”
“Ikan mas!”
“Karang.”
“Durian.”
“Kalian tahu dari siapa?
Semuanya menjawab, “Kakek!”
“Memang Kakekmu tahu dari mana?”.
Mereka menjawab, “dari Kakeknya Kakek”.
Aku yang masih bodoh, kadangkala langsung percaya terhadap apa yang teman-teman katakan.
***
Suatu malam ketika aku terbangun karena merasa kebelet, dan itu sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku turun dari ranjang dan segera keluar rumah. Di langit kulihat ada serbuk-serbuk berkilauan dan aku yakin itu bukan kunang-kunang. Suara rengeh terdengar dari jauh. Aku teringat perkataan teman bahwa kuda emas adalah pemakan anak kecil. Aku langsung lari ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu. Malam itu terasa mencekam sebelum akhirya aku memilih pipis di celana. Belum ada kamar mandi di rumahku waktu itu. Untuk pipis saja, aku mesti keluar ke pancuran belakang rumah.
Ibuku memarahiku karena pipis di celana. Kakek datang padaku dan menanyakan alasan mengapa aku ngompol. Aku bersikeras mengatakan kalau aku tidak ngompol. Aku hanya pipis. Tepatnya memilih pipis.
Aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Kakek tentang serbuk emas dan suara rengehan kuda dari Timur sana. Ibu diam. Senyum semringah muncul dari wajah Kakek.
“Akhirnya kuda itu memilih kamu, nak.”
“Maksudnya?”
“Ya, ia akan sering terbang di atas rumah kita untuk menjaga kita?”
“Aku tidak mengerti, kek.”
“Nanti kau akan mengerti.”
Konon kuda itu terbang menuju tempat-tempat yang tak pernah diketahui.
“Kuda emas itu menuju gunung Pongkor untuk menemui kekasihnya.”  Kata Kakek. Percintaan antar kedua kuda itu seringkali ditandai dengan purnama yang sempurna. Lalu cahaya yang dipancarkan bulan akan memantul dan mengubah warna putih menjadi kilau keemasan.
“Itu yang membuat gunung Pongkor kaya akan emasnya.” 
“Aku tidak mengerti.”
“Emas yang dijadikan orang-orang sebagai perhiasan, itu adalah telur kuda emas.”
“Hah?”
“Kuda itu tidak beranak, tetapi bertelur. Butuh berjuta-juta tahun untuk mebuat telur-telur itu menetas,” ungkap Kakek,
Sungguh tragis ketika tahu, membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk menelurkan emas sebanyak itu. Dan di tempat kuda emas bertelur telah dibangun perusahaan tambang besar. Kau tahu, sejak kejadian aku melihat kuda itu terbang dari Tanjoleat menuju Pongkor, kuda itu tak pernah terlihat lagi. Kakek bilang, kuda itu telah terbang dari Papua ke Maluku, lalu ke Kalimantan, Sumatera sebelum akhirnya ke Tanjoleat, kampung kami. Aku khawatir kuda itu kini telah terbang menuju negara lain untuk mencari sarang baru tempatnya bertelur. Sebab di tempat kami, perburuan emas selalu panas. Lagipula, pohon-pohon di Tanjoleat sekarag telah habis. Banyak kedapatan hewan-hewan liar masuk kampung kami. Sekawanan monyet jarang lagi terlihat memanjat-manjat batuan cadas di Tanjoleat. Kini seringkali sepi.
“Bagaimanapun, kuda emas juga adalah seekor hewan. Sama seperti mahluk hidup lainnya. Dia ingin melihat anak-anaknya tumbuh besar sebelum waktunya di bumi habis.” Ucap Kakek.
Dan soal menjadi penggembala kuda emas, hal itu sudah lama hilang di benakku. Aku kini lebih tertarik menentang pertambangan emas ketimbang memburu emasnya.*

Ciasahan 2014

 

Defamiliarisasi Budaya
Oleh Tawakal M Iqbal

Sabtu sore, di sebuah villa dekat pesawahan di Barengkok, saya bersama beberapa rekan lain terlibat diskusi yang cukup menarik mengenai formalisme dalam kesusastraan dan sejarahnya. Memang terdengar klise, tapi di kampung saya yang jauh sekali dari hiruk pikuk kesusastraan, pembahasan semacam ini justru terdengar baru.

Formalisme merupakan teori sastra yang muncul pada tahun 1916 di Russia berbarengan dengan New Criticsm di Amerika Serikat. Objek kajian formalisme menekankan pada sebuah bentuk di dalam kesusastraan. Bahwa sastra sebagai seni yang bentuk konkretnya adalah bahasa, memiliki cara berbeda dalam mengungkapkan sesuatu hal yang sederhana dengan sesuatu yang lain (metafora bahasa). Seorang penulis sastra, ketika ia menulis tentang kecemasan yang dialami si tokoh dalam cerita, misalnya. Penulis akan menerangkan berbagai macam situasi yang tengah menjadi beban di pikiran si tokoh. Sehingga aktivitas yang dilakukan si tokoh menjadi tidak terkontrol. Ini menuntut tingkat pemahaman yang dalam dari si pembaca. Sampai akhirnya tanpa diberitahu oleh penulis, pembaca akan menilai sendiri bahwa si tokoh dalam cerita itu sedang merasa cemas. Nilai sastra dari kasus ini adalah, melatih pembaca untuk menjadi seseorang yang memiliki kepekaan dan tingkat berpikir kritis tinggi.

Bahasa sebagai bentuk dari seni sastra dalam praktiknya terbagi dua macam, yakni bahasa praktis (baasa sehari-hari) dan bahasa sastra. Bagi kaum formalis bahasa sastra itu mesti berbeda dengan bahasa praktis. Bagaimana bahasa di dalam sastra memiliki berbagai macam cara untuk mengungkapkan sesuatu atau sengaja dilakukan dalam penggunaannya. Sehingga akan menimbulkan suatu sentuhan yang berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh banyak orang (bahasa praktis). Perbedaan inilah yang seringkali dikenal dengan defamiliarisasi.

***

Dalam kesusastraan, defamiliarisasi seringkali dapat mudah kita temukan. Apa yang dilakukan Chairil ketika membebaskan puisi dari aturan-aturan yang mengikat, misalnya. Itu merupakan proses defamiliarisasi. Contoh lainnya, ketika Sutardji mencetuskan kredo puisi, “bahwa kata adalah kata itu sendiri”. Pada mulanya tidak banyak orang yang menerima itu, karena dianggap telah keluar dari kesepakatan semu yang mengikat masyarakat penulis. Tetapi, pada kenyataannya, kini kredo Sutardji mendapatkan tempat di hati para penikmat puisi. Sederhananya, defamiliarisasi merupakan langkah yang dilakukan seseorang untuk keluar dari kebiasaan lama yang mengukung dirinya. Entah tanpa atau dengan alasan yang kuat, banyak orang telah memilih jalan untuk masuk ke dalam proses defamiliar.

Sastra merupakan refleksi dari kehidupan nyata. Defamiliarisasi sendiri dapat ditemukan tidak hanya di dalam kesusastraan, melainkan di kehidupan nyata sekalipun. Bahkan defamiliarisasi di kehidupan nyata, tengah berada pada dua kondisi yang saling bersinggungan. Yaitu nilai yang keduanya memiliki posisi salah di mata manusia. Meskipun defamiliar yang bagi sebagian besar orang merupakan langkah atau konsep keliru, akan tetapi ia dapat secara mudah berbalik menjadi aksi dan perspektif yang benar. Seseorang yang bekerja sebagai anggota dewan, misalnya. Tentu saja dalam seketika si anggota dewan tersebut akan menjadi bahan ejekan bila dia memilih tindakan untuk menolak melakukan korupsi, padahal kesempatan yang dimilikinya sangat banyak.

Nilai kebaikan yang di zaman dulu dianggap benar, kini (saya melihat) tidak lagi mendapatkan tempat semestinya. Contoh kasus lainnya, orang yang menolong nenek-nenek menyebrang di jalan raya, akan dianggap lebay atau cari perhatian oleh sekelompok orang yang melihat kejadian tersebut. Padahal nyatanya orang tersebut dengan ikhlas menolong si nenek. Nilai kebaikan menjadi defamiliar bagi keburukan, yang ketika dulu merupakan hal sebaliknya.

Tentu saja pandangan orang terhadap dua nilai tersebut dapat dikatakan keliru. Akan tetapi, meskipun hal tersebut telah telanjur marak terjadi bahakan membudaya, masih ada sebagian orang yang menganggap keburukan adalah defamiliar dari kebaikan. Defamiliarisasi sebagai proses atau langkah untuk keluar dari zona nyaman telah disalahgunakan pada kebiasaan yang akhirnya menjadi akar bagi sebuah tindakan. Seseorang yang masuk dewan dengan tujuan memberantas korupsi akan menjadi terasing di tengah konsepsi tentang nilai yang keliru. Defamiliar akan selalu dan tetap menjadi konsep yang utuh, meski berada pada dua posisi saling berlawanan.*

2014

Keterasingan, Cinta, dan Pembebasan
Oleh : Tawakal M Iqbal

Kita hidup untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari makna hidup itu sendiri. Chairil pernah berujar demikian dalam kegelisahannya soal hidup yang tengah mengukungnya. Bagaimanapun hebatnya seorang Chairil di mata para pembaca, ia tetap saja seorang yang selalu merasa sepi. Hidupnya seringkali dipenuhi kepedihan dan ketidakbahagiaan. Tetapi, dalam keadaan yang sedemikian beratnya, ia tak pernah lalai melahap bacaan. Chairil adalah seorang pengembara batin dan pemikir yang gelisah. Separuh hidupnya, ia habiskan hanya untuk membaca dan menulis puisi. 

Ada satu hal yang seringkali tidak kita pahami tentang hidup. Apakah sesungguhnya yang sedang kita cari dalam hidup ini? Bahagia, ilmu, harta, wanita, sorga, atau hidup itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seringkali singgah sebentar lalu pergi, sebelum kemudian singgah lalu pergi lagi, singgah pergi, singgah dan hingga akhirnya (barangkali) bersemayam sampai saat ini di dalam pikiran orang-orang.

Kehidupan hanya berlangsung sekali dan begitu cepat. Bahkan untuk mengulang pertemuan-pertemuan saja rasanya sulit. Manusia sebetulnya sedang berada pada posisi terjepit. Di mana gairah kebebasan pikiran tengah terkunci oleh sistem atau tatanan nilai yang berlaku di sekitar. Kadangkala untuk menerobos hal tersebut memerlukan permenungan lama dan mental yang kuat. Sebab, keterasingan (musuh abadi) tengah menanti, bagi mereka yang ingin mendobrak hal-hal yang kaku yang bagi sebagian besar orang kekakuan itu adalah hal yang aman agar tidak terhindar dari efek penolakan sebuah sistem. Dan keterasingan sendiri adalah hadiah yang paling patut diterima bagi para pemikir yang mendobrak kekakuan. Selain cemooh dan sindiran dari lingkungan sekitar tentunya.

Kadangkala kondisi sosial seringkali tidak berlaku adil kepada para pemikir sejati. Meskipun buah dari pemikiran mereka, hingga kini, manfaatnya telah digunakan oleh banyak orang. Tapi sedikit sekali yang tahu bahkan mau menghargainya.

Sistem membuat para pemikir berada pada kondisi yang tidak menguntungkan. Sehingga membentuk para pemikir di negara ini senantiasa menyenangi kungkungan. Seolah imajinasi adalah kawan karib dari pengekangan. Para pemikir justru seringkali mencapai puncak pemikirannya ketika berada dalam tekanan. Barangkali berangkat dari sanalah jiwa pemikir tumbuh dalam tubuh Chairil.

Semua orang yang mengikuti sejarah perkembangan sastra Indonesia pasti tahu bahwa Chairil terlahir di tengah kondisi keluarga yang sedang kacau. Kedua orang tuanya memilih berpisah ketika ia masih kecil. Lalu di umurnya yang belum genap 20 tahun, ia diharuskan menerima kenyataan pahit bahwa neneknya telah menyerah pada kematian.

Sebagian orang percaya bila jiwa kepenyairan Chairil pertama kali muncul sejak neneknya wafat. Tetapi sebagian orang lagi percaya bahwa Chairil sudah menulis puisi sejak berada di bangku sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Tetapi kebiasaan Chairil yang seringkali membuang puisi (bila tidak memuaskan) membuat anggapan itu menjadi sulit dibuktikan.


Kepulangan nenek kepada sang pencipta adalah hal yang paling memukul baginya. Rasa cinta Chairil kepada neneknya menjadikannya seorang perenung. Kedukaan dan permenungannya kentara sekali pada puisi “Nisan”.

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

1942

Chairil merenung, mencoba menerima keadaan namun tak kuasa mengubah ruang kosong dalam hatinya. Barangakali yang ia tanyakan pada dirinya adalah, “lalu untuk apa kita hidup sedemikian rupa, melakukan ini dan itu, tetapi kematian sulit dihindarkan?”

Rasa cinta yang teramat, membuatnya menjadi manusia yang penuh dengan pertanyaan. Akan tetapi, hanya sedikit sekali yang ia temukan jawabannya. Chairil sadar, jawaban-jawaban tentang kehidupan tidak akan pernah bisa ditemukan apabila ia sedang berada dalam posisi diam.

Ia seolah meyakini bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan, tetapi hujan yang membuatnya turun hingga sampai di bumi. Baginya alam tidak akan pernah memberikan jawaban kepadanya, maka dari itu ia mesti bergerak meninggalkan kungkungan. Memilih terasing, menjadi seorang pemikir. Menyerahkan hidupnya pada satu dunia bernama puisi.

Upaya pembebasan diri dari sistem, ia cerminkan pada sebuah puisi Aku yang keluar dari aturan-aturan lama yang mendayu. Puisi yang ia ciptakan terasa padat dan bertenaga. Itu tentu saja tidak akan tercipta bila ia tidak berupaya menyuarakan kebebasan. Bahwa kegigihan, sejatinya akan memperpanjang nafas kita. Chairil memang sudah meninggal 65 tahun yang lalu, tetapi nafasnya masih terasa hangat bila kita membaca “Aku” dalam keramaian maupun kesendirian.
Kegigihan Chairil inilah yang kini sulit sekali ditemukan pada diri manusia modern. Manusia di zaman sekarang seolah bingung dengan kehidupannya sendiri. Mereka merasa tidak ada yang perlu mereka lawan dan pertanyakan. Sebab musuh di zaman modern seperti ini, bukan lagi berwujud besar atau kecil, tetapi berbentuk bayang-bayang. Manusia modern belum bisa keluar dari sistem yang dikendalikan oleh bayangan. Perjuangan-perjuangan menjadi tidak terasa. Penolakan-penolakan seakan menjadi sesuatu yang sia-sia.
***
Bagi Chairil, menulis tidak mesti menunggu imajinasi dan perasaan yang sedang baik. Ia tak percaya, pada apa yang disebutnya sebagai “hukum wahyu” dalam proses kreatif. Bahwa inspirasi akan tiba dengan sendirinya, hinggap dalam kepala penyair lalu minta dituliskan. Pemahaman demikian oleh Chairil disebut dangkal dan picik, hanya sekadar angin lalu saja. Pernyataannya di atas menandakan bahwa Chairil adalah penyair sejati yang lebur dalam realitas kehidupan. *

2014


Telepon Genggam
Oleh : Tawakal M Iqbal

Selasa lalu, sore tepatnya, sepulang menjadi juri Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Kota Administrasi Jakarta Selatan di SMA 3 Jakarta Jalan Setiabudi. Saya pulang ke Bogor menggunakan Kereta Api. Tepat pukul 17.00 WIB saya menuju stasiun Sudirman.  Tetiba di sana, saya merasa kaget. Seh! Mungkin itu yang akan diucapkan oleh orang-orang, yang memilih menjauhkan rutinitasnya dari Jakarta. Semua peron penuh sesak oleh penumpang. Kereta-kereta yang lewat tidak lagi mampu mengangkut penumpang dari peron tempat saya menunggu. Tidak ada ruang lagi di gerbong-gerbong kereta yang lewat. Saya memutuskan untuk  duduk (istirahat sebentar) menunggu kereta selanjutnya tiba. Di samping,  duduk seorang perempuan seusia saya, sedang asik memainkan telepon genggam.

Ada banyak orang di peron. Tetapi yang terlihat, hampir semuanya tidak mencoba untuk saling mengenal, saling sapa, bahkan bercakap. Semuanya berfokus pada satu benda kecil yang menyala, telepon genggam. Saya Tiba-tiba merasa terasing di sebuah peron yang sangat sesak. Pikiran tentang Jakarta, sebuah kota besar yang penduduknya serba tahu dan pandai bercakap –umumnya soal kehidupan, dalam sekejap hilang. Saya tidak mendapatkan teman baru untuk bercakap-cakap di sana.

Kereta selanjutnya tiba. Penumpang masih juga sesak. Wanita di samping saya masih sibuk dengan telepon genggammnya. Seh. Padahal dorongan dalam diri saya untuk bercerita sangat kuat. Tiba-tiba saja saya teringat Heidegger seorang filsuf dari Jerman, yang mengatakan, “bercakap itu manusiawi”. Baginya bercakap adalah aktivitas fundamental  yang menjadi cara bagi orang-orang untuk mengungkapkan pengalamannya, yakni “mengada-bersama” satu sama lain. Bercakap merupakan kebutuhan manusia. Tetapi hal itu tidak terjadi di peron Sudirman. Bahkan situasi seperti ini sudah mulai sering saya temukan di ruang-ruang publik lainnya seperti taman, rumah sakit, dan gedung pemerintahan. Apakah semua orang lupa akan sifatnya sebagai manusia? Hubungan antara manusia dengan manusia kini seakan sulit terbangun. Saya mencoba berpikir ulang, tentang apa yang menjadi pikiran Heidegger.

Saya menganggap, barangkali yang dimaksudkan Heidegger adalah ini. “Manusia memiliki rasa ingin yang tidak terbendung dalam mengungkap rasa atau pengalamannya”. Jadi, manusia seringkali menginginkan apa yang menjadi pengalamannya dapat diketahui oleh banyak orang. Karena itu, bercakap yang menurut Heidegger adalah sifat manusia dapat dibenarkan. Meskipun dalam kasus ini yang dibicarakan bukan lagi soal kualitas bercakap, melainkan kuantitas. Seberapa banyak orang yang tahu tentang kita bukan seberapa banyak orang yang menanggapi pengalaman kita, dirasakan kini memiliki nilai lebih. Sederhananya dengan bercakap secara langsung, mungkin, hanya akan ada satu atau dua orang yang tahu. Tetapi bila bercakap atau mengungkap diri melalui media sosial semacam twitter, facebook, bbm, path barangkali akan sampai beribu-ribu orang yang tahu. Pertanyaannya, untuk apa? Eksistensi diri. Ya, manusia membutuhkan eksistensi diri untuk sekadar merasakan bahwa ia ada dalam suatu sistem kehidupan. Tetapi, apakah eksistensi harus melupakan orang-orang di sekitarnya?

Ada dua dunia yang sedang berjalan beriring di peron itu. Dunia langsung dan maya. Saya berada di dunia langsung, sementara sisanya sekitar 98% penumpang sedang berada di dunia maya. Heidegger benar, bercakap merupakan kebutuhan manusia. Bercakap itu menjadi menyenangkan bila kita berada pada satu dunia yang sama dengan lainnya. Bercakap langsung menjadikan manusia banyak tahu dan mengerti soal situasi yang dialami ketika itu. Sementara bercakap tidak langsung hanya membuat manusia tidak sabar dan cepat sekali marah, atau bahkan menjadi gagap. Hal ini terjadi disebabkan keliaran pikiran yang sejatinya dimiliki manusia, hanya bergantung pada koneksi internet yang seringkali lemot. Sementara itu mulut dan telingaya nya seringkali dibiarkan tertutup.

***
Saya baru tahu setelah sampai di rumah dan mencoba masuk ke dunia lainnya (internet) yang membuat asing, lewat komputer jinjing. Ternyata wanita di peron yang duduk di samping saya adalah teman mengobrol yang cukup akrab di media sosial facebook. Saya tahu dari update terakhir status facebook-nya dan menandai nama saya tentang situasi yang terjadi di peron Sudirman. Wah..*

2014
Diberdayakan oleh Blogger.